Galeri Video
Kontak Kami
    Yayasan Pendidikan
    Salman Al Farisi Bandung
    Jl. Tubagus Ismail VIII
    Tlp. 022-2505584 Fax. 022-2514919
    [email protected]
Agenda Kegiatan
19 September 2018
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
Statistik

Total Hits : 1255272
Pengunjung : 236327
Hari ini : 21
Hits hari ini : 64
IP : 54.198.52.82
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi berdiri pada tanggal 12 Agustus 1989, dan pada tanggal tersebut pula TK Salman Al-Farisi resmi berdiri. Peresmian dilakukan oleh almarhumah Ibu Siti Maryam Wahyudi (Ibu Walikota). Sejak berdirinya, TK Salman menggunakan sistem full day school. Mengapa Salman menyelenggarakan pendidikan dari tingkat paling bawah dan mengapa full day ?

Sebelum kami mendirikan TK, kami mengadakan jajak pendapat di wilayah Kodya Bandung dengan jumlah responden kurang lebih 500 orang yang terdiri dari ibu-ibu dengan berbagai macam profesi. 

Kesimpulan dari jajak pendapat yang kami lakukan adalah bahwa masyarakat kota Bandung membutuhkan suatu lembaga pendidikan alternatif, yaitu pendidikan yang dapat memberi keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Mengapa demikian ? Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan antara lain :

  1. Perubahan sosial budaya yang sedang terjadi di masyarakat kita, dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Perubahan tersebut di atas jelas sangat berpengaruh pada pola fikir dan pola pandang masyarakat kita. Kemajuan sains dan teknologi yang begitu cepat perkembangannya terutama teknologi komunikasi dan informasi. Lingkungan kehidupan perkotaan yang menjurus ke arah individualisme.

  2. Perubahan sosial budaya mempengaruhi pola fikir dan cara pandang masyarakat kita. Salah satu ciri masyarakat industri adalah mereka mengukur keberhasilan dengan materi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat kita yang akhirnya berdampak pada perubahan-perubahan peran dan sebagainya. Peran ibu yang dahulu adalah sebagai ibu rumah tangga dengan tugas utamanya mendidik anak, dengan adanya perubahan di atas peran ibu mulai bergeser. Peran ibu zaman sekarang tidak hanya sebatas sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga dituntut untuk berkarir di luar rumah. Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka memiliki alasan sendiri-sendiri. Ada yang memang di tuntut untuk membantu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, ada yang karena kebutuhan aktualisasi diri, dan ada yang memiliki potensi yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan ummat. Hal tersebut mengakibatkan peran utama ibu sebagai pendidik di dalam keluarga mau tidak mau harus diganti oleh pihak lain. Disinilah YP Salman Al-Farisi berperan sebagai pengganti dalam menangani pendidikan anak-anak yang kedua orangtuanya harus bekerja di luar rumah. Salman Al Farisi dituntut untuk menawarkan suatu sistem pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat modern di mana antara kebutuhan pengembangan IQ, EQ dan SQ harus dipenuhi secara seimbang.

  3. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat, sehingga jika tidak dicermati, kita akan menjadi korbannya, terutama dari teknologi komunikasi. Dengan makin canggihnya perkembangan di dunia komunikasi, dunia seolah-olah sudah tanpa batas (borderless world) informasi begitu derasnya masuk ke rumah-rumah kita. Agustus 1989 adalah awal dari kebangkitan dunia informasi di Indonesia dengan munculnya stasiun TV swasta pertama, yaitu RCTI. Kita dituntut untuk cepat bergegas mengikuti perkembangan yang akan terjadi berikutnya agar kita tidak menjadi korban keteledoran kita sendiri. Pada saat itu kami dari pihak Yayasan berfikir, bagaimana mengantisipasi hal-hal yang kita tidak inginkan dari perkembangan dunia informasi ini. Karena kami yakin, jika sudah ada satu stasiun TV swasta muncul, maka akan disusul oleh yang lainnya. Dugaan itu benar, satu tahun berikutnya, Agustus 1990, muncullah SCTV yang diikuti oeh TPI, AN-teve dan Indosiar. Apa yang kita khawatirkan dahulu sekarang benar-benar kita rasakan: Tayangan TV selama 24 jam dengan ragam acara yang ditayangkan , Alhamdulillah antisipasi pada tahun 1989 yang kami ambil dengan menyelenggarakan pendidikan sistem full day, bisa sedikit membendung lajunya perkembangan tersebut di atas, sehingga anak yang bersekolah di lingkungan Salman Al Farisi dapat sedikit terjaga dari acara TV yang banyak diprotes orang.

Ciri masyarakat modernyang hidup dilingkungan perkotaan kecenderungan menjadi yang semakin individualistis sehingga masyarakat kita tidak perduli dengan lingkungannya. Masyarakat sekarang cenderung masa bodoh dengan kejadian yang ada di sekitarnya, sehingga anak dan remaja yang sedang mencari identitas diri, menjadi tidak mengenal batasan-batasan mana yang baik dan mana yang buruk. YP Salman Al Farisi menciptakan lingkungan yang bisa menunjukkan, pada anak tentang nilai-nilai yang baik dan benar. Karena yang baik belum tentu benar, dan yang benar belum tentu baik. Di Lingkungan YP Salman Al Farisi anak-anak bebas berekspresi, bebas mengeluarkan pendapat dengan tanpa melanggar norma yang sudah ada. Anak-anak di lingkungan YP Salman Al Farisi dididik untuk berani tampil beda dengan gaya yang tetap sopan dan ucapan-ucapan yang santun.

Antara Idealisme dan Realitas

YP Salman berdiri dengan suatu idealisme bahwa dunia pendidikan adalah salah satu medan garapan yang sangat mendesak untuk dibenahi. Dunia pendidikan membutuhkan uluran tangan dari semua pihak, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pada perjalanannya, ternyata untuk mempertahankan idealisme sangat dibutuhkan kekuatan mental dan kemajuan yang kuat. Seperti layaknya orang yang menempuh perjalanan panjang, banyak hal yang mesti kita lewati; terkadang naik, kadang turun, ada kerikil tajam, ada juga sandungan batu besar. Begitu juga dengan perjalanan YP Salman Al Farisi , pada tahun-tahun awal yang menjadi tantangan berat adalah masalah sumber dana karena YP Salman Al Farisi bukanlah suatu lembaga yang didirikan dengan modal besar. Sumber Daya Manusia adalah tantangan yang tidak kalah beratnya. YP Salman Al Farisi muncul dengan berbagai ide baru yang bersifat inovatif bagi dunia pendidikan kita. Dan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk kita dapat mentransfer apa apa yang ada di benak kita kepada orang lain untuk bisa diaplikasikan di lapangan. Hal ini sangat membutuhkan ketrampilan tersendiri yang mungkin sangat sulit dicarikan teorinya. Dua masalah tersebut di atas adalah tantangan yang bersifat intern dan alhamdulillah di usianya yang ke-8, dua hal tersebut sudah bukan merupakan tantangan yang berat sifatnya, dengan kata lain hal tersebut sudah banyak mengalami perbaikan. 

Selain itu tantangan yang bersifat faktor eksternal dari pemerintah, lembaga lain, maupun orang tua didik. Pada awal TK Salman berdiri, TK Salman adalah satu-satunya sekolah di Indonesia yang menggunakan sistem full day. Sudah merupakan suatu kewajaran bahwa sesuatu yang baru pasti mengundang komentar. Ada yang setuju, ada yang ragu-ragu, dan tak sedikit juga yang menentangnya. Tantangan pertama adalah dari pihak pemerintah, dalam hal ini DEPDIKBUD. Mereka menganggap kami telah melanggar kaidah-kaidah pendidikan yang selama ini berlaku di Indonesia. Sekolah selama 8 jam sehari dan 5 hari kerja tidak mungkin diselenggarakan di Indonesia, karena selama ini yang berlaku adalah sekolah setengah hari dengan 6 hari kerja.

Munculnya TK Salman Al Farisi tidak sedikit mengundang komentar para pakar pendidikan Indonesia. Hal ini disebabkan karena ada beberapa media massa yang mengangkat menjadi bahan berita. Tempo saat itu adalah media masa pertama yang mengangkat berita di rubrik pendidikan. Sejak itu TK Salman Al Farisi menjadi bahan polemik di media massa. Dalam hal ini kami merasa diuntungkan oleh peran media massa karena dengan waktu yang singkat TK Salman Al Farisi sudah dikenal oleh banyak orang, bahkan sampai ke luar negeri. Dengan berjalannya waktu hal-hal tersebut di atas sudah tidak lagi menjadi masalah. Secara formal pun pihak pemerintah dalam hal ini DEPDIKBUD sudah mengakuinya. Selama perjalanannya YP Salman Al Farisi banyak merasa terbantu oleh peran media massa. Dari awal berdirinya hingga sekarang hampir semua media massa cetak baik yang berskala daerah maupun yang nasional pernah mengangkat tentang sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan YP Salman Al-Farisi. 

Pada tahun 1995 pemerintah menguji coba sekolah sehari penuh dan Salman Al Farisi menjadi tempat bertanya bagi sekolah-sekolah yang menjalankan uji coba tersebut. Ternyata dari hasil uji coba, pemerintah berkesimpulan bahwa sekolah dengan sistem full day tidak bisa diterapkan di Indonesia. Alhamdulillah di lingkungan YP Salman Al Farisi , sistem fullday sejak diterapkan sampai sekarang tidak banyak mengalami masalah baik dari siswa maupun dari sistem itu sendiri. Ritme kehidupan anak disekolah yang dimulai dari pukul 07.30 sampaipukul 16.00 wib ,mudah-mudahan akan menjadi salah satu bekal bagi mereka untuk bersaing di era kesejagatan kelak. 

Semoga tujuan YP Salman Al Farisi menyelenggarakan pendidikan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai kalifah fil ardh dan sebagai hamba Allah, serta menyiapkan manusia yang siap memakai bukan manusia yang siap pakai bisa terwujud. Insya Allah 15 sampai 20 tahun ke depan, anak-anak kita menjadi aktor-aktor pemeran utama di Indonesia khususnya dan dunia secara umumnya.. Dan rasanya kami tidak salah langkah mengawali pendidikan dari TK, karena sejak masa kanak-kanak awal kami dapat membentuk mereka menjadi khalifah fil ardh dan sebagai hamba Allah sesuai dengan tujuan yayasan.