Salman Al Farisi Playgroup Salman Al Farisi Taman Kanak-kanak Salman Al Farisi Sekolah Dasar Salman Al Farisi Sekolah Menengah Pertama Salman Al Farisi
Menu Utama
Sejarah
Visi, Misi & Tujuan
Pengurus
Kurikulum
Metode
Rencana Strategis
Fasilitas
UPP
     TPL
     Perpustakaan
     Komputer
     Audio Visual
     PSB
Milis
Kontak Kami
Peta Situs
Album Photo
Mengapa Harus Memilih Salman
struktur organisasi
 

Arsip Berita

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Kalender -- read by Asep Irfan N

 
Web Site ini telah dikunjungi oleh 6306 pengunjung.
   
 
SALMAN AL FARISI Bag.I
BEBERAPA HIKMAH PELAJARAN DARI KEHIDUPAN SALMAN
AL-FARISI RHADIYALLAHUANHU


Dasar Pemikiran

  • Abdullah bin Mas’ud RA Berkata,"Bagi orang yang ingin mengambil teladan, hendaklah ia meneladani shahabat-shahabat Rasul Saw. Sebab, mereka itu adalah umat yang baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya.Mereka dipilih Allah untuk menemani-Nya dan menegakkan agama-Nya. Oleh karena itu, kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka. Sesungguhnya mereka itu selalu dalam petunjuk yang lurus." "
  • Siapa saja yang ingin mengkaji pendidikan yang dilakukan oleh kelompok pertama para shahabat Rasul Saw dan orang-orang yang datang setelah mereka dengan membawa kebaikan, dipersilahkan menelaah sejarah agar dapat mendengar tentang jejak-jejak agung dan keutamaan mereka yang mulia.
  • Salman al-Farisi adalah seorang shahabat Nabi yang Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata tentangnya: "Itulah seorang pria dari kelompok Ali atau ahli bait. Siapakah diantara anda yang mirip seperti Lukman Hakim selain Salman Al-Farisi? Ia mendapatkan ilmu orang-orang pertama dan ilmunya orang-orang yang terkemudian; ia membaca kitab pertama dan kitab terakhir, ia adalah lautan yang tak pernah surut airnya."
  • Salman Al-Farisi adalah Shahabat yang sukses sebagai pemimpin (leader) tidak hanya itu ia juga adalah workleader yaitu sebuah istilah yang menggabungkan pekerjaan dan kepemimpinan (leading) sedemikian rupa sehingga mencerminkan hakikat sesungguhnya dari kepemimpinan yang efektif. Dan itu tercermin dari kiprahnya sebagai pejabat pemerintahan Madain.
  • Yayasan Pendidiakn Salman Al Farisi adalah sebuah yayasan pendidikan terdepan yang memiliki visi dan misi yang khas. Hendaklah kembali mengokohkan jati dirinya dengan menjadikan Salman Al-Farisi (Islam dan pendidikannya) sebagai asas, motor penggerak dan benderanya. Hal ini menurut konsekwensi adanya format pendidikan islami yang teruji, unggul dan kreatif.
  • Tentunya YP SAF tidak mengambil nama Salman (al-Farisi) hanya karena kebesaran nama Masjid Salman dengan ITB-nya tapi betul-betul menjadikan nama shahabat tersebut sebagai inspirasi, ruh, mengambil berkah pelajaran (hikmah) dan jati diri yang harus menjadi target dari manusia-manusia yang dihasilkannya.
  • Tulisan berikut ini merupakan usaha penulis sebagai bagian dari Lembaga pendidikan ini sebagai staf pengajar SD Salman Al-Farisi memberi suatu dengan menampilkan Salman Al-Farisi dalam format yang lain. Mudah-mdahan tulisan ini ada kontribusinya untuk pengembangan jati diri"Salman Al-Farisi" ke depan.


Salman Al -Farisi: Ringkasan cerita dan pelajaran

Kelahiran
Desa Ji, Ram Hurmuz Persia (persi) sebuah negeri yang mayoritas penduduknya beragama Majusi (penyembah api).
Keluarga
Ayahnya seorang Kepala Desa Ji, Seorang ahli pertanian, pakar tentang soal tanah, memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang luas, subur dan makmur. Yang pasti dia dilahirkan dalam sebuah keluarga berkecukupan "jetset".
Kehidupan masa kecil
Lingkungan pergaulannya dengan anak bangsawan atau anak raja. Salman akrab dengan mereka sehingga kemanapun salah seorang pergi, pastilah yang lainnya ikut.
Kehidupan Agamanya
Salman hidup dalam keluarga yang taat beragama. Ayahnya beragama Majusi menginginkan agar anaknya menjadi abdi api di tempat penyembahan yang senantiasa menyala disetiap rumah. Salman melakukan kewajibannya dengan tekun dan khidmat menyalakan api. Begitulah harapan semua orang tua terhadap anaknya meskipun apa yang diyakini oleh orang tuanya itu adalah salah dan irasional.
Suara kebenaran, dari rasa ingin tahu
Kebenaran itu selalu nampak jelas meskipun ada kabut gelap yang menyelimutinya. Begitulah yang terjadi pada diri Salman.

Dalam perjalanan ke alam terbuka, Salman mendengar suara lonceng gereja, Salman melihat memperhatikan aktivitas orang di dalamnya, Salman membandingkan perilaku orang-orang itu (Nasrani) dan perilaku kaumnya yang menyembah api. Dan ternyata hasilnya Salman dapat menyimpulkan dengan apresiatif bahwa agama ini (Nasrani) lebih baik dari pada agama Majusi dan kemudian menyampaikan, mendiskusikannya dengan yang lain (ayahnya).

Sofyan at-Tsauri, seorang tabi’iy (murid shahabat Nabi) (wafat tahun 148 Hijriah)membagi kemampuan akal kedalam bebarapa tahapan: memperhatikan, mendengarkan, memahami, mengerjakan dan menyebarkan. Begitupun dengan Abdullah bin Mubarak yang mengatakan bahwa awal menuntut ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, memahami, menghafal, mengamalkan lalu menyebarkannya.

Komunikasi, konsultasi dengan orang tua:
cermin keshalihan
Lihatklah bagaimana caranya seorang anak berkomunikasi dengan ayahnya tentang keyakinan barunya itu meskipun akhirnya Salman harus terkalahkan oleh power ayahnya-ia harus diborgol dan dikurung dirumahnya. Dan akhirnya ia harus bergerak hijrah untuk mencari sumber kebenaran itu.

Jalan Panjang mencari Kebenaran

1. Ke Syam
Salman memeluk agama Nasrani dan belajar agama kepada orang yang ahlinya yaitu pastur. Tapi sayang pasturnya gadungan, ia memerintahkan pengikutnya memberikan sedekah melalui dirinya, tetapi tidak membagikannya kepada fakir miskin melainkan disimpannya. Disini terdapat lerning to learn dimana Salman belajar tentang kebenaran tidak semata dari orang yang menyampaikannya tapi dari kebenaran itu sendiri. Karakter Salman yang menonjol adalah selalu bertanya, hampir disetiap waktu ketika pastur-pastur yang didatanginya meninggal ia bertanya,"Apa pesan Bapak kepadaku?"

Dikatakan kepada Ibnu Abas:"Dengan apa engkau mendapat ilmu?" ia berkata:"dengan lidah yang banyak bertanya dan dengan hati orang yang banyak berpikir. Imam Abu Hanifah berkata:"Sesungguhnya aku mendapat ilmu dengan kesungguhan, pujian, dan bersyukur kepada Allah, maka setiap kali aku memahami dan merenungkan suatu pemahaman dan satu kalimat, aku menyatakan alhamdulillah ta’ala dan bertambahlah ilmuku."(Al-Qiyadah al-Mu’tsirah) Dr. Muhammad Iqbal mengutip perkataan Plato, bahwa rasa ingin tahu merupakan ibu dari segala ilmu (wonds, says Plato, is the mother of all science). (Stray Reflection, no.57)

2. Ke Mosul
Salman belajar, beribadah dan mencari hakikat dengan pastur lain hasil rekomendasi pastur yang shalih.
3. Ke Nashibain
Begitun dengan di Nashibain, Salman melanjutkan lerning to learn-nya.
4. Ke Ammuriah
Di Ammuriah, Salman belajar ilmu ibadah yang unik atau sekarang mungkin lebih ngetren disebut life skill. Ia dianjurkan supaya berkarya dan mencari penghasilan, diperintahkan untuk bekerja keras (workaholiq, supaya bergaul dengan manusia dan mengolah bumi Allah, untuk menyaksikan kekuasaan Khaliq dan keindahan makhluk ciptaan-Nya. Salman disini menjadi seorang entreupreuner yang sukses. Ia berkata,"Aku berusaha giat sekali sehingga aku memeliki banyak sapi dan kambing." Dan berhasil menjualnya sebagai bekal untuk kehidupan berikutnya mencari kebenaran.
5. Ke Jazirah Arab
Salman berhasil ke negeri Arab melalui rombongan kafilah dagang Arab setelah ada deal bisnis dengan mereka meskipun pada kahirnya Salman dikhianati dan dijual sebagai budak kepada orang Yahudi Yatsrib.



 

| Home | PG | TK | SD | SMP |

Copyright ©2001-2002