Salman Al Farisi Playgroup Salman Al Farisi Taman Kanak-kanak Salman Al Farisi Sekolah Dasar Salman Al Farisi Sekolah Menengah Pertama Salman Al Farisi
Menu Utama
Sejarah
Visi, Misi & Tujuan
Pengurus
Kurikulum
Metode
Rencana Strategis
Fasilitas
UPP
     TPL
     Perpustakaan
     Komputer
     Audio Visual
     PSB
Milis
Kontak Kami
Peta Situs
Album Photo
Mengapa Harus Memilih Salman
struktur organisasi
 

Arsip Berita

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Kalender -- read by Asep Irfan N

 
Web Site ini telah dikunjungi oleh 6304 pengunjung.
   
 
Agar Menjadi Seperti Muhammad SAW. [bagian I]
New Page 1

Bagaimana meneladani Nabi Muhammad Saw.?

Ini pertanyaan pertama yang muncul di benak seorang muslim. Pertanyaan tersebut tidak bisa terjawab kalau kita belum tahu siapa dan ada apa dengan Nabi Muhammad Saw. Tapi adakah orang yang tidak tahu siapa Nabi Muhammad, atau adakah seorang muslim yang belum mengenal Nabinya. Hal yang mustahil terjadi. 

 

Sebenarnya, pertanyaan bagaimana, menuntut manajemen diri. Sudahkah kita mengelola diri untuk bisa menjadi seperti Nabi dalam segala aspek kehidupannya? Sudahkah Nabi Muhammad menjadi teladan, menjadi idola, menjadi cermin dalam kehidupan seorang muslim.

 

Kiranya masih jauh kehidupan kita dari sang Nabi, sepertinya ada hijab yang memisahkan kehidupan kita dengan Nabi. Padahal kita sering menyebutnya, membacakan shalawat untuknya, atau memajang hiasan dan kaligrafi Nabi Muhammad di rumah kita. 

 

Sampai sejauh manakah teladan Nabi Muhammad Saw itu dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam penampilan, mu’amalah, transaksi jual-beli, mendidik, keluarga, mengatur masyarakat,  mengatasi masalah atau bahkan dalam ibadah keseharian kita.

 

Sudahkah kita mengevaluasi, hal-hal apa saja yang sudah kita teladani dari Nabi kita itu?

 

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Cukuplah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Ketahuilah bahwa kunci kebahagiaan itu mengikuti Sunnah dan meniru Rasulullah dalam segala hal yang diperbuatnya, gerakan-gerakan dan masa istirahatnya, cara makannya, sikapnya, tidurnya, dan pembicaraannya.

 

Beliau berkata, “Saya tidak memaksudkan ini dalam kaitannya dengan ibadah, sebab tidak alasan untuk mengabaikan sunnah-sunnah yang berkaitan dengan aspek ini. Yang saya maksudkan adalah semua masalah adat istiadat, sebab hanya dengan mengikuti sunnah-sunnah sajalah maka suksesi yang tak terbatas menjadi mungkin.

 

Allah Swt. berfirman:

 

 

 

Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar cinta kepada Allah, ikutilah aku, pasti Allah akan mencintaimu pula”.(3:29).

 

 

“Apa saja yang diberikan oleh Rasul kepadamu, ambillah, dan apapun yang dilarangnya, jauhilah!” (59;7).

 

Peniruan prilaku atau teladan Nabi yang disebarkan melalu hadis inilah maka kehidupan Islam mempunyai keseragaman yang unik dalam perilaku sosial, suatu fakta yang telah dan selalu mengesankan orang-orang yang berkunjung ke seluruh bagian dunia Muslim.

 

Annemarie Schimmel dalam Dan Muhammad Utusan Allah,  mengutip kata Frithjof Schoun, bahwa tidak ada kebajikan-kebajikan lain kecuali kebajikan-kebajikan Muhammad, sehingga kebajikan-kebajikan itu hanya dapat berulang pada orang-orang yang mengikuti contohnya; melalui merekalah Nabi hidup di tengah masyarakatnya.1

 

Alangkah indahnya jika kita melihat prilaku Nabi mewujud dan hadir bersama kita di sini, hadir dalam keluarga, masyarakat dan negara, sehingga “sang nabi” bisa kita sentuh dengan tangan kita, kita peluk semerbak keharumannya, kita lihat di jalan-jalan, kita rasakan kehadirannya dalam setiap canda dan senyum kita. Subhanallah.

 

Bagaimana agar terwujud? Caranya adalah mulailah kelola diri untuk menjadi seperti Nabi. Dan untuk menjadi seperti “Nabi” dimulai dari pengetahuan tentang sang Nabi tercinta ini. Pengetahuan tentang bagaimana Nabi dalam menjalani hidupnya sehari-hari, dalam berhubungan dengan Rabbnya, shahabatnya,  anak-anak, dalam urusan rumah tangga dan negara, sampai urusan makan dan minumnya.

 

Hal ini menuntut kita untuk kembali melihat kepustakaan yang mengupas Nabi Muhammad dalam berbagai aspek kehidupannya, mulai dari yang sifatnya pribadi seperti masalah fisik, postur tubuh, wajah, rambut, keluarga, sampai masalah yang lebih luas dan kompleks seperti membangun masyarakat dan peradaban.

 

Dan kepustakaan Nabi bukanlah kepustakaan yang mati, yang selesai begitu saja setelah kita membacanya. Atau hanya sekedar penambah wawasan keislaman atau parahnya lagi sebagai pelengkap hiasan rumah kita.

 

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw. yang terdapat dalam kepustakaan itu harus menjadi pelajaran kehidupan yang aplikatif dan solutif terhadap pengembangan diri kita. Dan itu harus menjadi pengalaman jiwa kita sehingga masuk dalam bingkai kepribadian seorang muslim.

 

Benar apa yang dikatakan As-Syahid Hasan Al-Banna  bahwa jika kita tekun membaca Sirah Nabawiyah, menyingkap detail-detail peristiwanya, dan menjalin interaksi dengannya, maka akan mendatangkan manfaat, yaitu ruh semakin peka, hati semakin bercahaya, sehingga dalam diri tumbuh cinta dan ingatan yang berpengaruh kuat dalam mengarahkan kepribadian, membangunkan perasaan dan memperkuat ruh (spritual).

 

Jadi ada tiga manfaatnya yaitu manfaat ruhiyah (spiritual), nafsiah (kejiwaan), dan athifiyah (perasaan).2

 

Penulis Alhamdulillah menemukan beberapa manfaat praktis dan pelajaran penting dari Sirah Nabawiyah ini. Pelajaran-pelajaran itu oleh penulis kutip, simpulkan, ringkas, diambil intisarinya dan penulis susun sehingga aplikatif. 

 

Akhirnya tidak ada seorang manusiapun di dunia ini yang memiliki kedudukan tinggi dimata manusia yang jujur selain Nabi Muhammad Saw. Dialah manusia yang paling agung, paling berpengaruh, dan yang paling dikenal dalam sejarah kemanusiaan. Penulis merasa lemah dan tidak memilki kemampuan lebih untuk menyibak kehidupan sang Nabinya, hanya inilah yang bisa dipersembahkan. Semoga dengannya penulis bisa menjadi seperti “Nabi”, menjadikannya teladan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

“Mencontoh diri Rasul adalah meneladani beliau,

mengikuti Sunnahnya, dan tidak berselisih dengan perkataan

 dan perbuatan beliau.

[Imam At-Tirmidzi]


 


1 Annemarie Shimmel, Dan Muhammad Utusan Allah (terj. And Muhammad is His Messenger;The Veneration of the Prophet is Islamic Piety), Penerbit Mizan, Bandung, cet, hlm. 51

2 Ahmad Isya Asyur, Hadits Tsulasa, Penerbit Era Intermedia Solo, cet. pertama, hlm. 329.



Penulis: Nino Yudiar, S.Pd.

 

| Home | PG | TK | SD | SMP |

Copyright ©2001-2002